MENJELAJAH LADANG BISNIS WONOCOLO

Lebih dari 50 kos-kosan, 20 warung kopi,

30 warung makan, 10 tempat laundry, dan 15 kios fotocopy

yang beroperasi di Wonocolo. Sebuah kawasan dekat Universitas Islam

Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Ini belum termasuk beberapa

jenis usaha lainnya, seperti bengkel, isi ulang air minum, 

toko baju, dan toko elektronik.

salah satu warung makan di kawasan wonocolo yang buka saat malam hari di bulan ramadhan. Salah satu warung makan di kawasan wonocolo yang buka saat malam hari di bulan ramadhan.

Matahari tepat di atas kepala saat itu, sesekali angin berhembus namun tak menambah kesejukan. Udara justru terasa kering. Jalanan wonocolo di siang hari pada bulan ramadhan tampak tak seramai biasanya. Hanya satu warung makan yang terlihat bersiap – siap buka, tampak seorang wanita usia awal lima puluhan yang sibuk mengatur beberapa meja dan kursi. Saat kami menyela kegiatannya demi kepentingan laporan ini, tak ada raut terganggu darinya. Wanita ini justru dengan senyum ramah mempersilahkan kami duduk. “Oh, duduk mbak kalau begitu,” ujarnya sambil mengusap butir – butir peluh di keningnya.

Obrolan pun bergulir setelahnya. “Sudah hampir lima tahun mbak jualan nasi seperti ini, lumayan hasilnya buat nutupi kebutuhan. Terutama buat anak sekolah,” terangnya mengawali pembicaraan. Wanita yang biasa dipanggil Bu Sum ini kemudian buru – buru menambahkan. “Keuntungan bersihnya bisa sampai empat ratus ribu per hari,” ucapnya diakhiri senyum simpul.

Masih menurut wanita bernama lengkap Sumiati ini, berdagang bukan hanya perkara untung dan rugi. Tapi ada satu pelajaran penting untuk hidup yang ada di dalamnya. “Walaupun di wonocolo ini jualan itu usaha yang paling gampang, asal punya modal saja. Tapi jualan kan bukan cuma untung rugi to mbak, seng penting iku kudu sabar mbak,” tuturnya dengan mata menerawang ke atas.

Memang, tak dipungkiri bahwasanya di kawasan yang dekat dengan lokasi kampus ini termasuk wilayah yang strategis untuk mengumpulkan pundi – pundi uang. Tidak hanya menjajakan makanan, dan barang – barang lainnya, namun juga termasuk menawarkan jasa. Peluang – peluang itulah yang dimanfaatkan oleh Sumiati dan ratusan warga lainnya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh wanita bermata teduh lainnya. Rumina, sudah hampir sepuluh tahun, ibu dari tiga orang anak ini mengelola rumah kos mahasiswa. Tentu saja usaha yang dimulai dari hal – hal kecil ini tak disangka kini menjadi bisnis utamanya. Bahkan suaminya pun memilih untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang karyawan swasta demi beralih menangani rumah kos ini. “Sekarang, alhamdulillah kos – kosannya tiga belas kamar sudah penuh semua. Nyari rezeki mbak, susah – susah gampang. Tapi ya, yang begini ini kita bersyukur sekali. Dimudahkan yang di-Atas,” terangnya pada kami saat ditemui di sela – sela kegiatannya.

Mukanya yang cerah dan matanya yang bercerita turut menyampaikan pada kami bahwa keuntungan bisnisnya ini tak lepas dari keberhasilannya mencermati peluang yang ada. “Hasil dari rumah kos ini sudah lebih dari cukup mbak untuk biaya hidup, harga sewa satu kamar milik kami itu rata – rata tiga ratus ribu untuk dua orang penyewa. Semua kamar penuh oleh mahasiswa UIN. Yah, itu yang bikin bisnis mudah disini, wong banyak sasarannya,” ujarnya terkekeh.

Berbagai kebutuhan mahasiswa bisa dipandang sebagai peluang baru untuk mendirikan sebuah usaha di kawasan wonocolo ini. Oleh karena itu, sepanjang mata memandang di kawasan wonocolo ini kami melihat banyaknya rumah – rumah yang bertranformasi sebagai warung, kios fotocopy, salon, toko, dan berbagai usaha lainnya.

report : zur/tri/am

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s